Desa Penglipuran, Bangli


Desa Penglipuran berasal dari kata “Lipur” yang memiliki pengertian hibur. Hal ini dapat dipahami karena wilayah ini disebutkan menjadi tempat raja untuk menghibur diri pada jaman dahulu, karena wilayah ini disebutkan menjadi tempat raja untuk menghibur diri pada jama dahulu, karena tempat ini memang demikian asri, berada di ketinggian 700m dipermukaan laut membuat daerah ini terasa sejuk sepanjang musim, dikelilingi hutan bambu dengan selingan pohon-pohon besar disana sini.

Desa Penglipuran terletak di Kelurahan Kubu, sekitar 6km sebelah utara kota Bangli. Wilayah seluas 112 hektar ini pada th 2008 berpenduduk senbanyak 933 orang dari 220 KK. Penglipuran merupakan desa yang mempertahankan corak tradisional seakan tidak banyak tersentuh oleh pengaruh modern, dengan ciri khas terutama rumah-rumah perkampungan dengan struktur, letak dan bentuk maupun bahan yang didominasi bambu dan kayu termasuk bagian atap dan tembok yang nyaris seragam nkecuali bengunan tempat tidur keluarga yang posisinya agak debelakang, relatif bebas dan fleksibel sesuai dengan selera dan kemampouan pemilik. Rumah-rumah tersebut berjajar rapi dikiri-kanan jalan dari utara ke selatan.

Di bagian depan setiap pekarangan kita akan dihadapkan dengan pintu masuk yang bentuknya mirip antara satu dengan yanglainnya disebut angkul-angkul, memiliki lubang/ceruk di kiri-kanan untuk tempat menaruh sesajen, setelah angkul-angkul kita dapat melihat langsung semacam tembok penghalang yang disebut aling-aling dengan fungsi disamping menjaga privasi penghuninya, juga dimaksudkan sebagai penghalang roh-roh jahat atau anasir negatif yang berkehendak masuk serta mau mengganggu penghuni di dalam pekarangan.

Setiap pekarangan dilengkapi dengan dapur, bale saka nem yaitu bengunan bertiang 6 yang dipakai untuk tempat upacara serta bangunan untuk tempat tinggal keluarga yang di daerah lain dapat dipersamakan fungsinya seperti Bale Dauh atau Meten. Masing-masing pekarangan luasnya sekitar 750 m2, terbagi menjadi dua bagian: sekitar 120 (8×15) m2  untuk bangunan tempat tinggal dan merajan, sisanya berlokasi dibagian belakang berupa teba yang dipakai tempat memelihara ternak, menanam sayuran serta pohon2 yang sering dibutuhkan setiap harinya seperti  pisang, kelapa, ketela, dll.

Sebagai sebuah desa, tentu saja memiliki kelengkapan seperti Balai Desa dan Pura/  Kahyangan Tiga maupun pura lainnya. Di hulu desa terletak Pura Desa (Penataran Bale Agung) dan Puseh, sedangkan Pura Dalem terletak di bagian hilir yakni disebelah selatan berdekatan dengan tempat pemakaman desa. Ada lagi sebuah pura yang disebut Pura Dukuh yang terletak ditengah-tengah hutan bambu. Konon ke empat pura inilah yang dibangun dan diwariskan hingga sekarang untuk mengingat leluhur mereka yang kemudian diasosiasikan dengan Pengeling Pura, dikaitkan dengan nama Penglipuran.

One response

  1. Pingback: Peta Pulau Bali | Bali Tour Murah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s